Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Puisi Perenungan Kapan Terakhir Kali Aku Bahagia

Raditia puisi __Setelah sekian lama, kira-kira 3 minggu tidak menulis puisi, akhirnya saya mempunyai ide. Tapi bukannya tidak punya ide sih. Hanya saja fokus menulis di blog sebelah yang baru saya bangun. 

Oke tanpa berlama-lama bagi kamu yang sudah menjadi pembaca setia, meskipun saya tahu sulit untuk mencari dan mendapatkan pembaca setia apalagi saya yang bukan orang terkenal๐Ÿ˜€๐Ÿ˜ hanya penulis puisi amatir yang sering ngasal juga.๐Ÿ˜ƒ

Puisi kali ini, tentang perenungan setiap kita saya yakin selalu melewati fase ini, pase peralihan. Dari yang awalnya kita tanpa banyak berpikir untuk terus melangkah. Tapi tiba-tiba booom semuanya menjadi berat. 

Lalu kita tersadar bahwa setiap langkah yang dipenuhi kebahagiaan dan senyuman yang lahir dari hati bahagia ternyata mahal. Inilah ungkapan hati yang mewakili hati kita. Bertanya pada diri sendiri. 

Kapan aku terkahir tertawa lapas karena mamang aku bahagia????

Puisi Perenungan Kapan Terakhir Kali Aku Bahagia



1. Lembah Pemikiran

Berjalan dalam bahagia

Bahagia yang benar-benar terpancar dari tertawa

Kehidupan akan berlalu, entah mau kemana?

Setiap saat berpikir tentang kepuasan hidup

Tapi bosan yang kutemukan, rasa cemas yang dalam


Semua orang pernah di titik bahagia

Tapi titik itu seakan tidak pernah ada

Di kala lembah pemikiran hadir untuk mengahantam

Memandang senyuman yang lalu

Terhanyut dalam masa lampau


Terlihat gembira tanpa cela dan rasa takut

Tapi hari ini apalah daya

Rasanya kebahagiaan seperti mimpi

Kebahagiaan bagaikan mitos yang tidak nyata

Beribu kali berpikir positif semua itu sia-sia


Adakah ia nyat?

Adakah ia akan datang?

Adakah kebahagiaan?

Rasanya kau hadir tetapi hilang lenyap

Bagai mimpi di siang hari, sadar bahwa diri tetap bertanya

Kapan terakhir aku bahagia?


2. Tahun yang aneh

Mengeluh semakin dalam, sangat dalam

Bukannya solusi kutemukan

Hanya kesakitan yang semakin dalam

Banyak hal, terjadi dalam jam-jam kehidupan


Merenungkan, apa yang telah ku buat untuk hidupku

Seakan hari berlalu tanpa kehidupan

Aku bernapas, tapi seperti tidak bernapas

Bosan memukul dengan keras

Dalam kesendirian, tidak ku temukan kawan


Kurindu masa lalu, masa tersenyum

Masa dimana tidak ada beban rasanya

Tapi hari makin hari, bebanku semakin menekan

Menekan bagai baja yang ditaruh di atas pundak


3. Tekanan haruslah kehidupan

Mari kawan bersamaku

Kita mencermati yang terjadi di bawah langit

Adakah suatu yang sejatinya kebahagiaan

Bukankah ketidakbahagiaan adalah kebahagiaan itu sendiri


Tangan yang kuat 

Karena mengangkat beban berat

Lari yang kencang

Dimulai dari setiap napas yang terengah-engah


Setiap pencapaian, dan kehidupan yang terlihat berhasil

Diraih dengan pukulan yang berkali-kali 

Memberikan rasa sakit


Tapi apakah setiap kesakitanmu itu karena perjuangan

Atau hanya karena ketakutan

Diam dalam kenyamanan palsu


Lihat setiap kerinduan, jalanlah dalam masa sekarang

Menemukna tujuan, tujuan yang menantang hidup

Bukan berarti melakukan suatu kejahatan

Tetapi menantang berarti bermakna bagi diri sendiri 

Bermakna bagi sesama


Jalan saja, sampai temukan, senyuman itu

Senyuman yang lahir dari kebahagiaan

Dalam sepi sendiri menikmati kasih Sang Penguasa 

Penguasa dunia dan sorga

Hidup dalam kepuasan karena menemukan


Sembari mempelajari masa lampau

Dan berjalan dengan sebuah pelajaran penting 

Dari masa lalu

Sekian perenungan 

Renungkan kehidupan

Dan menemukan jawaban


Sampai bertemu lagi, di puisi-puisi lainnya 

Baca Juga :

Saya Agung Raditia, salam perpuisian Indonesia

Yaaaaaa semoga puisi kali ini memberikan makna bagi kamu yang menemukannya di eang kita, eang google. Saya rasa inilah kehidupan. Bukan hanya kebahagiaan tetapi sebuah makna sesungguhnya kehidupan. 

Setiap kejadian dan pencapaian menemukan apa yang kamu cari. Yang dicari oleh kedalaman benak yang mengalir ke nadi dan menghasilkan tindakan.

Posting Komentar untuk " Puisi Perenungan Kapan Terakhir Kali Aku Bahagia"