Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Botol minum | Puisi Perenungan

Botol minum | Puisi Perenungan

Memberikan kehidupan tapi pernahkah.

Dia menerima terimakasih

Ia diam menampung kehidupan

Selagi manusia bekerja ia akan selalu setia

Ia dibawa ia tidak pernah berteriak dan bosan

Ia ditinggal ia tetap diam dan tidak bicara

Ia diabaikan berdebu tetaplah ia diam sampai ia rusak dan dibuang


Sumber energi, menampung segala-galanya bagi manusia

Dia diciptakan, dibeli. 

Lalu ditinggalkan, terlihat kejam memang manusia

Ia botol minum, ia benda mati.

 Tak ada nyawa tapi sangatlah berguna


Bagaimana dengan kita.

Katanya manusia berpikir dan berperasaan

Apakah hidup kita sudah berguna??

Atau hanya kebijaksanaan palsu yang tertanam dalam diri

Sebuah hisapan jempol kosong


Tong sampah yang dipenuhi belatung

Ini perenungan bagi kita manusia yang bernyawa

Yang mengaku punya otak

Tapi begitu sering kita tidak berguna bagai benda mati


Benda mati yang dalam diam.

Dapat  kita pakai untik sebuah kehidupan

Tapi apakah kita bisa, mau menjadi manfaat bagi sesama

Hilang lenyap nyawa kita.

Mau sampai kapan hidup bagi diri sendiri

Setiap kata akan sangatlah berguna

Embun dipagi hari memberikan kehidupan

Setiap hal yang terjadi biarlah mengajarkan 

Bahwa kita butuh, butuh untuk menolong orang


Kita ada untuk hidup bagi yang lain

Kita saling bergantungan

Berhenti menganggap diri begitu berharga

Hidup memandang sekeliling lebih baik


Dalam cinta kasih yang menyatukan

Dalam langkah, sedih 

Gembira, penuh tawa

Hadir salam duka dan lara bersama


Selamat menikmati harimu sobat, bisa kita bersama renungkan. Hari ini dalam diri saya ada pertanyaan yang membuat saya menulis puisi ini.

Apakah saya sudah berguna bagi sesama. Ataukah saya hanya hidup bagi diri sendiri. Hidup dalam keregoisan semata. Hingga akhirnya sadar bahwa saya diciptakan untuk orang lain. Bermakna bagi sesama.

Merefleksikan diri sendiri hal paling baik, memuaskan jiwa dan logika. Hingga akhirnya hadir senyum bahagia. Saya harap puisi ini berguna. Oleh karena kedalaman hati saya yang paling dalam bersama kita.

Membaca menulis, membaca dan menulis. Sampai kita benar-benar cinta apa itu menulis maka jangan lupa tersenyum yaaaaaaaa. 

Saking cintanya pada literasi, tulinsan tapa ujung seperti ini saja di pamerkan. Dalam kegabutan perjalanan kehidupan mari jangan lupa jaga kesehatan. Gak penting sekali kan.

Yaaaudahlahhhh sampai ketemu di tulisan aneh lainnya. dahhhhhhhhhhhh

Posting Komentar untuk " Botol minum | Puisi Perenungan"