Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

INSPIRASI KEHIDUPAN, mati satu tumbuh seribu

Jika Benih Itu Tetap Diatas Meja Yang Indah Maka Benih Itu Tidak Ada Gunanya

 Peribahasa yang cukup familiar bahkan laris manis di kalangan anak muda pada masa sekarang bahkan sudah populer pada zamannya. Tidak jarang beberapa orang menggunakan peribasa ini sebagai kata-kata “penghiburan” karena diputusin si do’i. Jangan-jangan Anda salah satunya. 

Ternyata peribahasa ini tidak saja cocok buat kamu tapi cocok juga di dunia perbijian. Mati Satu Tumbuh Seribu.

Teringat akan kata-kata dari seorang pujangga anonim “Jika biji gandum itu tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia akan tetap satu biji saja tetapi jika ia jatuh ke dalam tanah dan mati ia akan menghasilkan banyak manfaat serta menghasilkan kehidupan-kehidupan yang baru.” Satu biji gandum yang jatuh ke dalam tanah dan mati dapat menghasilkan ribuan bahkan jutaan kehidupan berikutnya, dengan kata lain biji gandum ini telah mati terhadap dirinya sendiri, telah menaklukkan egonya, harapannya bahkan bagi apapun yang menarik karena ia sudah berdamai dengan semua penderitaan, realita kehidupan yang menekan. Pilihan hidupnya, dimana tidak akan pernah terucap kata “menyesal”.

Sedikit orang telah menjadi biji gandum bagi sesamanya, mereka melakukan itu tidak dengan paksaan ataupun gegabah, tapi mereka melakukan itu dengan sukarela dengan penuh penyerahan diri. Artinya mereka telah mati terhadap segala keinginan,cita-cita, kesempatan-kesempatan yang seharusnya mereka bisa dapatkan apa yang mereka inginkan  tapi mereka memilih untuk  menolak semua itu untuk menghasilkan kehidupan-kehidupan baru.  kehidupan-kehidupan baru yang merepresentasikan akan hidup mereka, pada akhirnya kesukesan sejati adalah Ketika kita hidup bagi orang lain, dan orang itu juga sukses, lalu menghasilkan kesuksesan berikutnya.

Dua ribu tahun yang lalu biji gandum yang SEJATI sudah mati terhadap semua tawaran-tawaran yang menggiurkan bahkan yang sangat populer menurut ukuran dunia, semua kesempatan itu ditolaknya dengan sadar, karena Ia tahu bahwa itu bukanlah panggilanya, bukanlah visinya. Ia harus menolak semua itu dengan kata lain ia mati terhadap segala kehidupan yang berpusat pada diri sendiri, jauh lebih dari itu Ia harus mati secara fisik dengan cara yang paling mengerikan dan sadis, semua itu dijalaninya dengan ikhlas, taat dan penuh penyerahan diri karena Ia tahu bahwa akan ada kehidupan-kehidupan baru yang merepresentasikan akan hidupnya dan visinya. Ia mati bagi Anda dan saya, Ia sudah jadi biji gandum yang indah, sejati bagi seluruh semua orang.  

Inilah kehidupan sejati, merupakan kebutuhan kita semua umat manusia sebagai mahluk sosial untuk hidup melayani orang lain. Kita diciptakan oleh Sang kuasa untuk saling berbagi, dengan segala keunikan, saling melengkapi. Bila beterai mempuyai kutub yang sama, maka tidak akan menyalakan cahaya senter. Jika kabel listrik memiliki kutub yang sama di setiap alirannya maka, yang terjadi kebakaran karena konslet atau ia tidak mengaliri aliran listrik untuk menghasilkan cahaya indah. Ada roda kana, maka harus ada kiri. Ada  roda depan maka harus ada belakang. Ada atas ada bawah. Semuanya harus ada untuk saling melengkapi untuk kehidupan yang bermakna, bergerak bersama, dan hidup bermakna bersama menghasilkan seyuman bersama.

Baca Juga : Hati Ayah

Coba kita renungkan sudahkan kita berbagi hidup dengan orang lain? Selamat menikmati hari, hati yang gembira adalah obat semangat yang patah mengeringkan tulang.